Penyebab Terjadinya Perang dagang Amerika Serikat vs Republik Rakyat Tiongkok
Belakangan ini kita disuguhkan oleh berita berita Internasional khususnya mengenai perang dagang yang terjadi diantara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok.
Kita bisa melihat bagaimana ketegangan yang disebabkan oleh kedua negara ini seakan menghidupkan kembali persaingan antar dua kekuatan besar dunia.
Persaingan menjadi semakin nyata ketika Amerika mengumumkan berbagai tarif baru, khususnya untuk komoditas komoditas asal Tiongkok Yang dengan segera dibalas Dengan hal yang sama oleh Tiongkok.
Semakin hari permasalahan ini menjadi semakin parah Jumlah komoditas dagang yang dikenakan tarif oleh kedua negara tersebut. Semakin banyak Akhir akhir ini kita bahkan melihat bagaimana Amerika berusaha melawan pengaruh Tiongkok dengan membatasi perusahaan berbasis teknologi asal Tiongkok, seperti Huawei dan ZTE.
Hal ini mungkin mengingatkan kita Bahwa pada tahun 957, Uni Soviet berhasil mengemparkan dunia dengan program antariksanya yang berhasil meluncurkan satelit buatan manusia pertama Sputnik I, hanya beberapa bulan kemudian Uni Soviet mengirimkan makhluk hidup pertama ke luar angkasa yaitu Laika yang sebenarnya adalah seekor anjing jalanan.
Dengan menggunakan Sputnik II Pada tahun 96, Soviet bahkan mengirimkan manusia pertama ke luar angkasa Kosmonot itu bernama Yuri Gargarin. Dengan berbagai pencapaiannya Uni Soviet seakan berpesan kepada seluruh dunia, Bahwa komunis Bukan hanya mampu menandingi Bahkan mampu mengalahkan Kemajuan teknologi dari berbgai negara kapitalis barat.
Melihat hal ini Amerika segera mersepon dengan program antariksanya sendiri Yang didorong atas kecemburuan dan ketakutan Terhadap superioritas teknologi Dari negara rivalnya tersebut.
Hal ini membuat Amerika Mengalokasikan dana yang begitu besar Bagi program antariksanya Yang pada akhirnya Memang membuat space race Berhasil dimenangkan oleh Amerika serikat.
Sekalipun soviet telah runtuh namun bayang bayang akan ketertinggalan dari negara adidaya seperti Amerika seakan muncul kembali dengan bangkitnya Tiongkok pada abad ke 2 kebangkitan tersebut seakan menggantkan posisi Uni Soviet sebagai saingan terberat yang dihadapi oleh Amerika.
Berbeda dengan kawan lamanya Uni Soviet, Tiongkok yang sekalipun labelnya komunis tidak terlalu tertarik dalam menyebarkan ideologinya. Bagi pemerintah Tiongkok, yang terpenting adalah menjamin berbagai kebutuhan dari masyarakatnya yang begitu besar dan masih terus membesar. Sekaligus menjamin keberlangsungan kekuasaan dari partai Komunis, terlebih bagi pemerintahan Tiongkok.
Bayang bayang akan kejatuhan dari para pemimpin Uni Soviet Masih cukup hangat dipikiran mereka Bagi mereka, yang pernah mengenyam pendidikan era "Orde Baru" Atau setidaknya dipengaruhi olehnya Mungkin akan bertanya "Bukankah negara yang menganut ideologi Komunis memiliki kecenderungan untuk menyebarkan ideologinya ke negara lain"
Mengapa hal tersebut bisa berubah? Tiongkok, terlepas dari ideologi komunisnya
Mampu menjadi negara Dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat signifiikan. Bahkan membuat negara adidaya di dunia seperti Amerika Serikat pada akhirnya harus mengumumkan perang dagang demi melawan pengaruh ekonomi Tiongkok.
Perubahan kebijakan tersebut pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Deng Xiaoping yang seperti namanya "Shopping" lebih tertarik mencari kucing yang memang mampu menangkap tikus tidak peduli apapun warna kucingnya.
Sebagai seorang pemimpin yang menggantikan Mao Zedong. Deng Juga mewarisi berbagai masalah yang belum mampu diselesaikan, oleh para pemimpin Tiongkok sebelumnya. Dalam menghadapi berbagai masalah tersebut Deng Xiaoping menerapkan prinsip "Mencari kebenaran dari fakta" Yang kemudian ia tuangkan dalam kalimat: "Sosialisme dengan karakteristik Tiongkok".
Kalimat tersebut, mewarnai berbagai kebijakan yang diambil pada masa kepemimpinannya. Yang pada dasarnya bisa kita mengerti sebagai bentuk "politik praktis". Diambilnya kebijakan itu, tidak terlepas dari pengalaman hidupnya yang sudah melewati berbagai fase.
Mulai dari pengalamannya dalam perang saudara Tiongkok, dimana salah satu faktor yang menjelaskan mengapa komunis berhasil memenangkan perang tersebut Adalah bagaimana mereka mampu memanfaatkan Pasukan Nasionalis Yang berhasil ditangkapnya Untuk kemudian dirubah atau di "Indoktrinisasi" Menjadi pasukan komunis baru yang setia.
Berbeda dengan komunis, yang umumnya terdiri dari para gerilyawan pasukan militer nasionalis yang berasal dari tentara revolusi nasional atau pasukan Kuomintang. Pasukan ini bukan hanya pasukan yang lebih terlatih, Mereka ini juga adalah veteran dalam perang konvensional melawan Jepang.
Sebagian dari mereka bahkan telah dipersenjatai ulang dan dilatih menurut metode perang terbaru dari militer sekutu. Sekalipun demikian, tidak jarang pasukan yang lebih modern ini terjebak dan dikepung oleh pasukan komunis. Dan dalam hal ini, tidak jarang bukan karena para perwira Kuomintang yang kurang kompeten, melainkan, karena sebagian dari para perwira Kuomintang lebih sibuk untuk bersaing diantara mereka sendiri daripada bersatu untuk melawan musuh bersama.
Pasukan komunis bahkan tidak jarang dari para perwira Kuomintang yang karena permasalahan pribadi membiarkan rekan rekan mereka sendiri untuk dikepung dan dihancurkan dengan meminjam tangan dari pasukan komunis.
Hal ini mereka lakukan sebagai salah satu cara untuk menyingkirkan rival rivalnya. Hal ini bisa dilihat dari kisah salah satu komandan terbaik kuomintang yang bernama Zhang Lingfu. Zhang adalah salah satu perwira Kuomintang yang paling kompeten Chiang Kai-Shek bahkan empercayakannya sebagai kepala dari divisi 74 yang pada saat itu merupakan salah satu dari 5 pasukan terbaik yang dimiliki oleh Kuomintang.
Namun dalam kampanye militer Menglianggu pasukannya maju terlalu jauh ke garis pertahanan musuh, sehingga dengan mudah dikepung oleh pasukan komunis. Sekalipun pada dasarnya masih terdapat pasukan Kuomintang di sekitarnya, sebagian dari mereka tidak mau membantu divisi 74, dengan mengatakan berbagai alasan, Bahkan setelah atasan mereka sendiri yaitu Chiang Kai-Shek memerintahkannya untuk menolong Zhang yang sebenarnya adalah rekan persejuangan dari para perwira tersebut.
Salah satu alasan, mengapa hal ini bisa terjadi adalah karena kecemburuan mereka dengan pencapaian militer Zhang yang dipercayakan memimpin salah satu divisi terbaik Kuomintang pada akhirnya, permasalahan ini menyebabkan salah satu perwira terbaik Kuomintang dibiarkan terkepung dan dihancurkan oleh Komunis selain terjadinya persaingan internal di kubu militer.
Kesalahan dalam pengambilan keputusan turut berkontribusi dalam melemahkan pasukan terbaik yang dimiliki oleh Kuomintang tidak mengherankan jika berbagai pasukan tersebut
dapat dilkepung dan dihancurkan atau ditangkap oleh pasukan Komunis yang sebenarnya lebih inferior dibandingkan mereka.
Puncak dari kejadian ini adalah menyerahnya pasukan terbaik Kuomintang yaitu "New First Army" yang digadang gadang merupakan pasukan terbaik dari Kuomintang Mengapa?. Karena pasukan ini dianggap mengakibatkan korban terbesar bagi militer Jepang selama perang Tiongkok - Jepang.
Yang kedua menyerahnya "New First Army" Bukan hanya merupakan pukulan moral yang sangat berat bagi Kuomintang melainkan hal ini juga sangat menguntungan Komunis. Komunis memperoleh akses perlengkapan perang paling modern yang dimiliki oleh Kuomintang, tidak mengherankan jika dalam perang berikutnya pasukan Kuomintang dipaksa oleh Komunis untuk berhadapan dengan rekan rekan mereka sendiri yang telah beralih ke pihak Komunis.
Dengan membawa seluruh pengalaman dan perlengkapan perangnya termasuk berbagai perlengkapan militer yang diimpor dari Amerika seperti tank ringan, M5 Stuart. Tidak mengherankan, jika militer Kuomintang menjadi sangat kewalahan dalam berperang melawan pasukan Komunis yang kini memiliki perlengkapan yang sama atau bahkan, lebih baik dibandingkan pasukan Kuomintang.
Bahkan, salah satu panglima militer Kuomintang yang paling jenius Jendral Du Yuming yang selama hidupnya mendapat julukan Zhuge Liang kecil, karena keberhasilannya melawan Jepang dalam perang dunia 2 tidak dapat berbuat banyak ketika ia harus melawan Komunis
yang menggunakan bekas bekas dari pasukan Kuomintang untuk melawan pasukan Kuomintang yang masih setia.
Pada akhirnya jendral Du Yuming berhasil dikalahkan dan ia sendiri tertangkap komunis
kisah kisah yang seperti ini semakin membuat sekutu dari Kuomintang seperti Amerika Serikat. Semakin meragukan kompetensi militer dari Kuomintang, Pengalamannya dalam perang saudara Tiongkok mengajarkan Deng Xiaoping yang saat itu masih menjabat sebagai komisaris politik dari pasukan pembebas rakyat.
Apa pentingnya menerapkan kebijakan kebijakan yang bersifat praktis. Hal ini menjadi sangat unik karena sebagai komisaris politik, sudah menjadi tugas Deng untuk memastikan kesetiaan dari pihak militer terhadap ideologi Komunis.
Selain perang saudara Tiongkok, pengalaman yang juga sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusannya adalah perpecahan diantara Tiongkok dan Soviet. Hal ini membuat Deng Xiaoping melakukan kunjungan kenegaraan ke berbagai wilayah selatan.
Dalam hal ini Asia Tenggara sebagai cara untuk membendung pengaruh dari Soviet dan Vietnam, Maupun untuk melihat berbagai perkembangan yang telah berhasil dicapai oleh negara negara di sekitar Tiongkok diantara negara di Asia.
Deng Xiaoping sangat tertarik dengan kasus kebangkitan Singapura. Ia melihat bagaimana gaya kepemimpinan dari Lee Kuan Yew berhasil mengubah Singapur menjadi negara yang paling maju di wilayah Asia Tenggara. Keberhasilan kepemimpinan ini menjunjukan bagaimana suatu negara dapat menjadi makmur secara ekonomi sekalipun secara politik dipimpin dengan cara yang agak otoriter, Lee menunjukan bukan masalah otoriter maupun Demokrasi melainkan kepemimpinan berbasis "meritokrasi" yang membuat suatu negara menjadi maju.
Kebijakannya dalam menerima investasi asing disaat negara lainya sedang terbakar oleh semangat anti asing membuat Singapur berhasil menampung investasi asing dalam buku Lee Kuan Yew "The Grandmaster Insight of China, The United States and The World" maupun buku "From Third World to First, The Singapore Story",
Kita bisa melihat bagaimana Lee dan berbagai analisisnya turut mempengaruhi pengambilan keputusan dari Deng Xiaoping bahkan setelah kunjungan kenegaraan pertama dari Deng Xiaoping ke Singapur pada 978. Pandangan Tiongkok kepada Singapur mulai berubah pada awalnya adalah umum bagi negara Komunis seperti Tiongkok untuk menyebut Singapura sebagai "Running Dog of The American Imperialist" hanya beberapa waktu setelah kunjungannya Tiongkok mulai merubah pandangan itu dan menggambarkan Singapur sebagai "The Garden City".
Mereka bahkan menyebutkan Singapura sebagai tempat untuk mempelajari berbagai bidang, seperti penghijauan, perumahan publik maupun pariwisata. Memangnya, apa yang Deng dapat pelajari dari Lee Kuan Yew dan Singapura untuk mengetahuinya, kita bisa melihat isi dari pidato Deng Xiaoping pada tahun 979 yang mengatakan saya telah pergi ke Singapur untuk mempelajari bagaimana mereka memanfaatkan investasi asing, yang menyumbang sebesar 35% dari pendapatan bersih dalam bentuk pajak kepada Singapura.
Selanjutnya keberadaan investasi asing juga memberikan upah yang layak bagi para pekerja di Singapura. Selain itu, hal ini juga turut mempengaruhi pertumbuhan industri khususnya di bidang jasa.
Ketiga hal itu tentu saja merupakan berbagai pendapatan yang sebenarnya di terima oleh negara. Apa yang Deng Xiaoping lihat dari kemajuan Singapura telah memberikannya suatu standar mengenai apa yang harus dicapai Tiongkok di masa mendatang.
Dalam berbagai reformasi di bidang ekonominya melihat berbagai fakta pemerintah Tiongkok dibawah kepemimpinan Deng Xiaoping mengambil kebijakan untuk mencoba sistem ekonomi pasar.
Hal ini mereka lakukan secara hati hati dan bertahap Pada tahun 98, Deng Xiaoping menerbitkan konsep special economy zone. Dimana Shenzhen menjadi salah satu dari 4 kota
yang mendapat status tersebut Kota Shenzhen berada di sebelah utara dari Hongkong yang saat itu masih merupakan koloni dari kerajaan Inggris.
Pada awalnya kotanya tidak lebih dari sebuah kampung nelayan, Dikemudian hari Shenzhen berhasil melahirkan perusahaan perusahaan besar asal Tiongkok dan salah satunya yang paling terkenal adalah Huawei. Keberhasilan program ini membuat lebih banyak kota besar
maupun kota kota pelabuhan dari Tiongkok.
Dibuka untuk menerima investasi asing dari sini kita bisa melihat adanya hubungan antara kebijakan yang tepat dengan kemajuan dari suatu negara terlepas dari ideologi apapun yang pernah dianut oleh negara tersebut.
Hal lain yang tidak kalah menarik dari masa kepemimpinan Deng Xiaoping mungkin adalah ambisinya untuk mencapai Reunifikasi Tiongkok dengan konsep "One Country Two System"
yang merupakan produk turunan dari kebijakan Deng Xiaoping yaitu "Sosialisme dengan karakteristik Tiongkok dikemudian hari.
Kebijakan pragmatis tersebut membuat Tiongkok memperoleh kembali Hongkong dari Inggris pada tahun 997 dan Macau dari Portugal pada tahun 999 sekalipun demikian Deng Xiaoping tidak memiliki kesempatan untuk melihat keberhasilan dari konsep "One Country Two System" yang dibuatnya karena, Ia telah meninggal 4 bulan sebelum dikembalikannya Hongkong kepada Tiongkok.
Melalui kisah ini kita bisa melihat bagaimana Deng Xiaoping yang adalah seorang pemimpin Komunis mampu mengambil kebijakan yang mungkin tidak terpikirkan bahkan oleh para pemimpin yang anti Komunis sekalipun.
Kisah mengenai kebangkitan Tiongkok yang akhirnya baik secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan terjadinya perang dagang diantara Amerika dan Tiongkok sudah seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua untuk melihat hal tersebut.
Bukan dengan cara membaca dongeng, yang mengisahkan adanya karakter yang baik dan yang jahat melainkan melihat kejadian tersebut layaknya seperti menonton para pemain yang sedang memainkan catur dimana ada yang berwarna putih dan juga ada yang berwarna hitam sekalipun keduanya berbeda warna. Warna putih tidaklah melambangkan kebaikan demikian juga warna hitam tidak melambangkan kejahatan.
Kedua warna tersebut hanyalah menunjukan perbedaan dari para pemain yang sedang menggerakan bidak bidaknya untuk mengalahkan pemain lainnya. Oleh karena itu, dibandingkan menentukan pihak mana yang akan kita bela dalam perang tersebut mengapa kita tidak menggunakan kasus ini sebagai pembelajaran bagi kita semua untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa ini dibandingkan bangsa bangsa lainnya yang sudah lebih maju .
Karena jika hari ini pemainnya adalah Amerika dan Tiongkok sangatlah mungkin di masa depan nanti adalah Indonesia yang menjadi salah satu pemainnya. Seperti kata pepatah "Penonton bisa melihat permainan lebih jelas daripada para pemainnya"
0 Response to "Penyebab Terjadinya Perang dagang Amerika Serikat vs Republik Rakyat Tiongkok"
Posting Komentar